05/03/2024

Month: September 2020

Dinamika Iklim Dan Produksi Karet

Tanaman karet merupakan salah satu komoditas perkebunan yang penting di Indonesia. Laporan Direktorat Jenderal Perkebunan (2018)  memperlihatkan bahwa ekspor karet Indonesia tahun 2017 sebesar 2,99 juta ton dengan nilai sebesar 5,10 Miliar US$. 

Faktor iklim berpengaruh terhadap perkembangan tanaman karet terutama pada produksi. Curah hujan minimum bagi tanaman karet adalah 1.500 mm/tahun dengan distribusi merata (Dijkman, 1951 dan William et al., 1980).  Secara umum tanaman karet dapat tumbuh dengan baik pada kisaran curah hujan 1.500-3.000 mm/tahun dengan distribusi merata. Besarnya evapotranspirasi atau kebutuhan air tanaman karet adalah setara dengan evaporasi yang diukur dengan panci  klas A atau 3 – 5 mm per hari untuk kondisi di Indonesia (Haridas, 1985).  Curah hujan 100-150 mm akan dapat mencukupi kebutuhan air tanaman karet selama 1 bulan (Rao dan Vijayakumar, 1992). Pada saat musim kemarau, ketersediaan air berkurang sehingga air menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan dan produksi tanaman karet. Hal ini terutama terjadi pada pertanaman karet yang pengaturan jarak tanamnya terlalu rapat, sehingga terjadi kompetisi antar tanaman karet dalam mengkonsumsi air dari tanah. Kramer (1983) menyatakan bahwa pengaruh yang langsung akibat kekurangan air berkepanjangan adalah berkurangnya laju pertumbuhan sehingga ukuran tanaman dan produksi lebih rendah dibandingkan tanaman normal.

Curah hujan adalah salah satu faktor dalam ketersediaan air bagi tanaman karet yang berpengaruh terhadap metabolisme tanaman dan produksi. Kondisi agroklimat dan produksi karet di Pusat Penelitian Karet selama 5 tahun (2014 – 2019) terlihat pada Gambar 1. Musim hujan dimulai pada bulan November hingga Mei dan musim kemarau pada bulan Juni hingga Oktober. Curah hujan terendah selama 5 tahun terjadi pada bulan Oktober 2015 yang hanya sebesar 0.6 mm dengan produksi karet sebesar 938 kg/ha. Pada tahun 2018 dan 2019 curah hujan terendah terjadi pada bulan Juli dan September sebesar 2,6 dan 7,5 mm dengan produksi karet sebesar 791 dan 520 kg/ha. Curah hujan sangat berpengaruh cukup signifikan terhadap produksi tanaman.  

Gambar 1. Pengaruh curah hujan dan produksi karet selama 5 tahun.

Pada gambar 2 terlihat hubungan antara kandungan air tanah, defisit air dan produksi karet selama 5 tahun. Defisit air tertinggi tejadi pada bulan Oktober 2015 sebesar 76,59 mm dengan kondisi kandungan air tanah sebesar 120,26 mm. Produksi karet yang tertinggi pada bulan April 2017 terjadi pada saat kondisi tanah tidak mengalami defisit air. Kekurangan air akan berdampak pada keseimbangan kimiawi dalam tanaman sehingga mengakibatkan berkurangnya hasil fotosintesis atau semua prosesproses fisiologis berjalan tidak normal. Selain itu juga berakibat pada tanaman menjadi kerdil, produksi rendah dan kualitas turun (Craft et al, 1949; Kramer, 1969).


Gambar 2. Pengaruh kandungan air tanah, defisit air dan produksi karet selama 5 tahun.

Kesimpulan akhir yaitu tanaman karet mempunyai daya adaptasi yang luas dan dapat tumbuh pada beberapa kondisi tanah dan iklim, tetapi pertumbuhannya akan lebih optimal apabila tanaman ini dibudidayakan pada daerah yang mempunyai tanah dan iklim yang sesuai.

(Risal Ardika - Kelti Tanah dan Pemupukan Pusat Penelitian Karet)


Model Tumpangsari Karet

Penurunan harga karet menjadi masalah serius bagi kondisi ekonomi rumah tangga petani karet, antara lain: 1) pendapatan petani per bulan menurun, 2) daya beli petani menurun, 3) kemampuan investasi  petani menurun, 4) petani menghentikan usahatani karet dan beralih profesi, dan 5) mengkonversi karet ke komoditas lain yang  lebih  prospektif. 

Model tumpangsari karet secara partisipatif dengan tanaman ekonomis lainnya secara berkelanjutan merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan oleh petani agar dapat bertahan dalam kondisi harga karet rendah saat ini. Model tumpangsari karet secara partisipatif merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan produktivitas usahatani karet rakyat melalui inisiasi dan partisipasi petani serta layak secara finansial. Model ini dapat meningkatkan pendapatan petani, produktivitas lahan dan dan produktivitas karet. 

Kendala teknis pengembangan model ini adalah naungan tajuk tanaman karet sehingga tidak dapat berkelanjutan dan produktivitas tanaman sela menurun. Diperlukan modifikasi jarak tanam karet melalui jarak tanam ganda sehingga dapat mengembangkan model ini dalam jangka panjang. Kendala sosial dan ekonomi dapat diatasi melalui model tumpangsari karet partisipatif dan didukung oleh kebijakan pemerintah dan kelembagaan partisipatif yang kuat. Tantangan pengembangan model ini pada skala yang lebih luas antara lain: sikap mental ketergantungan petani pada bantuan pemerintah; lemahnya koordinasi antarinstansi pemerintah dan nonpemerintah; dan tidak terjaminnya kontinuitas anggaran merupakan tantangan yang dapat mengganggu upaya mobilisasi partisipasi petani dan masyarakat untuk menjalankan program secara komprehensif. Selain itu, tantangan yang harus dihadapi untuk memperlancar pelaksanaan program model ini antara lain meningkatkan peran pemerintah, penyuluh, menyederhanakan birokrasi administrasi, dan mendapatkan komitmen yang kuat dari pimpinan eksekutif dan legislatif  di daerah secara menyeluruh dan konsisten yang didukung oleh lembaga penelitian, penyuluh pertanian, dan lembaga keuangan daerah. 

Perspektif kebijakan pemerintah diperlukan untuk mendukung dan penyangga harga karet dan tanaman ekonomis lainnya di tingkat usahatani melalui penguatan kelembagaan ekonomi seperti lembaga pengolahan hasil, penyimpanan, dan pemasaran. Diperlukan juga dukungan bimbingan teknis dan pendampingan manajemen model usahatani ini untuk mempercepat adopsi teknologi. Secara sosial diperlukan diseminasi teknologi untuk mengetahui tingkat adaptasi teknologi di tingkat petani sehingga mempermudah petani dalam melaksanakan sistem usahataninya.

Pola Tumpangsari Karet Dengan Ternak dan Tanaman Ekonomis Lainnya Melalui Modifikasi Jarak Tanam Karet Untuk Tumpang Sari Jangka Panjang

Konsep Replanting Model Tumpangsari Karet Melalui Modifikasi Jarak Tanam Karet Untuk Tumpang Sari Jangka Panjang

Keterangan : Populasi Tanaman Karet 435 pohon / ha

(Sahuri – Kelti Agronomi Pusat Penelitian Karet)