23/05/2024

Month: February 2021

Balon dan Payung

Sembawa Agropark memiliki spot foto yang instagramable untuk para pengunjung. Terdapat payung-payung warna-warni diudara dan juga ada bola warna-warni yang menggantung seolah terbang berterbangan




Penggunaan Rainguard Sebagai Upaya Antisipasi Fenomena Anomali Iklim LA-NINA Pada Perkebunan Karet

Saat ini terjadi fenomena La-Nina yang menyebabkan meningkatnya curah sebesar 20-40%. Fenomena ini diperkirakan terjadi pada 27,5 % wilayah di Indonesia termasuk Lampung, Sumsel, Sumbar, sebagian Bengkulu, Riau, Sumut, dan Aceh. Fenomena La-Nina berpotensi menyebabkan penurunan produksi karet. Penurunan produksi ini dapat terjadi karena peluang hujan pada pagi hari yang lebih tinggi pada saat terjadinya fenomena La-Nina mengganggu kegiatan penyadapan tanaman karet. 

Pengaruh hujan terhadap produksi karet di Pusat Penelitian Karet Sembawa disajikan pada Tabel 1. La Nina berakibat pada turunnya jumlah hari sadap selama satu tahun. Pada tahun 2009 (tahun normal), jumlah hari sadap di Pusat Penelitian Karet Sembawa yang hilang karena hujan hanya 7 hari sadap, sedangkan pada tahun 2010 (La Nina) meningkat hingga mencapai 16 hari sadap. Peningkatan hari sadap yang hilang karena hujan yang tinggi pada Januari-Maret serta periode September-Desember 2010. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2010 curah hujan telah mengurangi hari sadap di KP Balit Sembawa sebanyak 9 hari. 

Tabel 1. Pengaruh curah hujan terhadap hari sadap

Bulan

TAHUN 2009 (Normal)

Tahun 2010 (La Nina)

Produk-

tivitas (Kg/Ha)

Jumlah Hari Tidak Disadap

Jumlah Hari Sadap

Produk-

tivitas 

(Kg/Ha)

Jumlah Hari Tidak Disadap

Jumlah Hari Sadap

Karena Hujan

Karena Libur

Karena 

Hujan

Karena Libur

Jan

157

1

2

28

252

3

2

26

Feb

197

 

1

27

189

4

1

23

Mar

188

1

1

29

257

3

1

27

Apr

226

 

2

28

304

 

1

29

May

204

1

2

28

282

 

1

30

Jun

160

 

1

29

254

 

1

29

Jul

135

 

2

29

265

 

2

29

Aug

87

1

3

27

170

 

2

29

Sep

74

 

6

24

110

1

6

23

Oct

100

 

1

30

148

1

1

29

Nov

124

2

2

26

159

1

2

27

Des

192

1

1

29

196

3

1

27

 

               

Total

1,844

7

24

334

2,586

16

21

328

Untuk mengantisipasi fenomena La-Nina pada perkebunan karet, dapat diaplikasikan teknologi rainguard. Hilangnya hari sadap dan keterlambatan waktu penyadapan karena hujan dapat diatasi dengan teknologi rainguard. Di India pada tahun normal, 25 hingga 40 hari sadap dapat diselamatkan dengan penggunaan rainguard.

Rainguard tersebut berfungsi untuk membelokkan  aliran air hujan yang mengalir melalui batang, sehingga tidak masuk ke mangkuk sadap dan menjaga bidang sadap tetap dalam keadaan kering. Dengan alat tersebut, air hujan yang jatuh ke dalam mangkok sadap jauh berkurang. Pengukuran volume air yang masuk pada mangkok sadap menunjukkan bahwa dengan aplikasi rainguard, air yang masuk ke dalam mangkok sadap hanya 20% saja sehingga tercucinya lateks oleh air hujan yang masuk ke mangkok sadap menjadi lebih kecil.

(Andi Nur Cahyo – Kelti Agronomi)

Penggunaan Rainguar


Penggunaan Rainguard

Kembangkan Hilirisasi Produk Lateks, Sekda Muba Datangi Puslit Karet Sembawa

SEMBAWA - Meski operasional pabrik aspal karet di Kabupaten Musi Banyuasin telah berjalan, Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin dibawah kepemimpinan Bupati Dr Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA tak pernah berhenti mengembangkan hilirisasi produk lateks.
"Prinsipnya kan serapan karet petani rakyat di Muba ini harus terus tinggi, demi meningkatkan kesejahteraan petani karet. Makanya berbagai upaya, termasuk untuk terus mengembangkan hilirisasi produk lateks akan terus kita lakukan," ucap Sekda Muba Drs ApriyadiMSi di sela kunjungan ke Pusat Penelitian(Puslit) Karet Sembawadalam rangka Studi Pembelajaran dan Penjajakan Kerjasama dalam rangkaPengembangan Hilirisasi Industri Karet Berbasis Masyarakat, Selasa (2/2/2021).

Dikatakan Apriyadi, pabrik aspal karet yang telah berdiri di Kabupaten Muba akan mampu menyerap 20 ribu lateks pekat produksi petani Muba, Pemkab Muba terus berupaya meningkatkan harga karet alam.
"Hari ini kita penjajakan kerjasama, produk hilir apa saja yang bisa kita kembangkan, seperti bantal lateks, produksi karet gelang, souvernir karet, balon atau sarung tangan," kata Sekda.

Lanjutnya pengembangan hilirisasi komoditas karet itu akan dilakukan oleh petani karet di Kabupaten Muba dengan dorongan pemerintah daerah dan bantuan teknologi dari Puslit Karet Sembawa.
"Mudah-mudahan keinginan kita ini bisa cepat terwujud, petani bisa memproduksi produk-produk turunan karet sendiri, langkah ini untuk mendongkrak kesejahteraan petani karet juga memberikan nilai tambah serta meningkatkan kesejahteraan petani karet rakyat," ulasnya.

Kepala Pusat Penelitian (Puslit) Karet Sembawa, Dr Edy Suprianto menilai Pemkab Muba mempunyai komitmen tinggi dalam upaya pengembangan sektor hilirisasi karet. "Ini sudah terbukti, salah satunya dengan pendirian pabrik aspal karet," ucapnya.
Edy menambahkan, Puslit Karet siap bersinergi dengan Pemkab Muba untuk memaksimalkan upaya pengembangan hilirisasi produk lateks di Kabupaten Muba.
"Kami yakin, Muba ini akan menjadi sentra nantinya serta percontohan khususnya di Sumsel dalam rangka pengembangan hilirisasi produk lateks yang tentunya sangat berdampak positif bagi petani karet rakyat," tandasnya.

Dalam kesempatan kunjungan ke Pusat Penelitian(Puslit) Karet Sembawa, Sekda Muba Drs Apriyadi MSi didampingi Asisten Bidang Pengembangan Perekonomian dan Pembangunan Setda Muba H Yusuf Amilin dan Kepala Perangkat Daerah Muba juga turut diterima langsung oleh Peneliti Fisiologi/ Kabag Penelitian & Pengembangan Puslit Karet Sembawa Dr Radite Tistama, Kabag Usaha Puslit Karet Sembawa Afrizal Vachlepi, MT, Kabag Bahan Tanam Puslit Karet Sembawa Ir Bambang Mulyadi, Peneliti Sosial Ekonomi/ Kasub SPI Dwi Shinta Agustina.