23/05/2024

Year: 2021

Sigit Ismawanto, M.Sc.


Sigit Ismawanto, M.Sc.

Peneliti Pemuliaan Tanaman

Pendidikan

  • S1 - Universitas Gadjah Mada - Biologi
  • S2 - University Putra Malaysia - Genetic Engineering and Molecular Biology

Minat Riset

  • Genetika dan Pemuliaan Tanaman
  • Bioinformatika

Biografi Singkat

Sigit memperoleh gelar Sarjana (Biologi) dari Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada pada tahun 2004. Gelar Master of Science diperoleh dari University Putra Malaysia pada tahun 2013. Pada tahun 2017 memperoleh jenjang fungsional Peneliti Muda Bidang Genetika dan Pemuliaan Tanaman.

Dr. Fetrina Oktavia


Dr. Fetrina Oktavia

Kepala Kelompok Peneliti Pemuliaan Tanaman

Pendidikan

  • S1 - 1999 - Program Studi Biologi, FMIPA, Universitas Andalas
  • S2 - 2004 - Bioteknologi, Sekolah Pascasarjana, Institute Pertanian Bogor
  • S3 - 2016 - Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman, Sekolah Pascasarjana, Institute Pertanian Bogor

Minat Riset

  • Bioteknologi tanaman
  • Molecular Breeding
  • Persilangan dan seleksi tanaman
  • DNA Fingerprinting

Biografi Singkat

Fetrina memperoleh gelar Sarjana Sains dari Universitas Andalas pada tahun 1999. Gelar Magister Sains diperoleh pada tahun 2004 dan Doktor pada tahun 2016 dari Institute Pertanian Bogor. Tahun 2018 memperoleh jenjang fungsional Peneliti Madya. Tahun 2019 - 2020 menjabat sebagai Koordinator Penelitian Balai Penelitian Sembawa, dilanjutkan dengan Kepala Sub Operasional Penelitian Pusat Penelitian Karet. Sejak 2019 sampai saat ini sebagai Ketua Kelompok Penelian Pemuliaan Pusat Penelitian Karet.

Fetrina aktif melakukan kegiatan penelitian yang mendukung program pemuliaan tanaman karet di Indonesia. Dalam pengembangan kerja sama International, Fetrina berpartisipasi aktif dalam kegiatan Breeding Group of IRRDB (International Rubber Research Development Board) sebagai Country representative dari Indonesia. Selain itu Fetrina juga berkesempatan berkolaborasi dengan Cirad, Perancis dan Agromillora, Spanyol mengembangkan bahan tanam karet asal kultur jaringan pada tahun 2017-2021. Kolaborasi dengan Cirad juga dilakukan terkait dengan Genome and Genetic Analysis of Tapping Panel Drynes pada tahun 2016-2020 dilanjutkan dengan co-coordinator kegiatan kerjasama penelitian Rubis Project konsorsium Pusat Penelitian Karet, Cirad dan Universitas Gajah Mada yang mendapat pendanaan dari Agropolis Foundation, Perancis. Pada 2018 juga melakukan kolaborasi penelitian dengan Riken, Jepang terkait dengan Research on breeding of natural rubber yang dilanjutkan dengan project Satrep pada tahun 2021. Pada saat yang sama juga dilakukan pengembangan Natural rubber properties melalui kerja sama dengan Riken dan Yokohama company, Jepang.

Pengaruh Kondisi Perdaunan Terhadap Hasil Lateks Pada Tanaman Karet

Pertumbuhan dan produktivitas tanaman karet (Hevea brasiliensis) ditentukan oleh faktor genotipe (G), faktor lingkungan (E), dan interaksi genotipe x lingkungan (GxE). Kondisi lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap produksi karet salah satunya  adalah kondisi curah hujan. Tanaman karet memiliki sifat menggugurkan daun pada setiap musim kemarau, gugur daun terjadi seiring adanya perubahan pola curah hujan bulanan. Kondisi curah hujan rendah mengakibatkan tanaman karet menggugurkan daun secara alami sebagai respon terhadap cekaman kekeringan yang terjadi pada bulan-bulan kering setiap tahunnya. Setiap klon tentunya akan memiliki respon yang berbeda terhadap perubahan jumlah curah hujan yang terjadi pada setiap bulannya. Gugur daun fisiologi yang terjadi pada tanaman karet  merupakan respon tanaman untuk mencegah transpirasi berlebih pada saat terjadinya cekaman kekeringan. Secara genetik tentunya masing-masing klon memiliki mekanisme adaptasi yang berbeda pada saat terjadinya perubahan lingkungan. 

Dinamika gugur daun pada tanaman karet terdiri dari lima fase yaitu fase 1 yang ditandai dengan muncul tanda-tanda daun menguning sampai daun kuning sebagian, fase 2 yang ditandai dengan kondisi daun kuning menyeluruh dan sebagian lagi sudah gugur, fase 3 ditandai dengan semua daun gugur dan muncul kuncup daun berwarna cokelat, fase 4 ditandai dengan daun mulai berwarna hijau muda, dan fase 5 ditandai dengan kondisi daun berwarna hijau tua.

Fase perdaunan pada tanaman karet

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa dinamika fase gugur daun memiliki pengaruh nyata terhadap hasil lateks. 

Pengaruh fase daun terhadap hasil lateks dari beberapa genotype karet

Jika ditinjau dari dinamika fase gugur daun menunjukkan bahwa hasil lateks (g/p/s) paling tinggi terdapat  pada fase 5, sedangkan paling rendah terjadi pada kondisi daun fase 3 dan 4. Hasil lateks pada kondisi daun fase 1 tidak berbeda dengan fase 2. Fluktuasi hasil lateks sangat dipengaruhi oleh kondisi daun tanaman. Kondisi perdaunan karet memiliki hubungan yang erat kaitannya dengan distribusi curah hujan. Turunnya kadar air tanah pada saat musim kemarau akan mempengaruhi penyerapan air dan unsur hara tanaman yang selanjutnya akan mempengaruhi metabolisme dan pertumbuhan tanaman. Salah satu fungsi utama air bagi tanaman adalah mempertahankan turgiditas sel dan jaringan tanaman yang penting bagi kelangsungan aktivitas sel dalam pembelahan dan pemanjangan sel. Pengaruh langsung yang terjadi akibat kekurangan air berkepanjangan yaitu berkurangnya laju pertumbuhan, sehingga ukuran tanaman dan hasil lateks rendah dibandingkan saat tanaman dalam kondisi normal. 

Tanaman yang memiliki kecukupan air akan lebih efektif dalam kegiatan fotosintesis untuk menghasilkan asimilat. Kapasitas fotosintesis tanaman karet menurun saat gugur daun, sehingga hasil lateks pada klon karet umumnya  juga menurun. Penurunan hasil lateks terjadi secara nyata pada saat pembentukan kuncup daun dan daun muda yaitu pada fase 3 dan 4. Hasil lateks yang rendah pada fase tersebut diduga disebabkan karbohidrat yang dihasilkan  pada saat fotosintesis yang terdapat pada tanaman lebih diutamakan untuk pertumbuhan tanaman dibandingkan untuk mensintesis partikel karet.

Referensi:

Oktavia, F., dan Lasminingsih, M. (2010). Pengaruh kondisi daun tanaman karet terhadap keragaman hasil sadap beberapa klon seri IRR. J. Penel. Karet. 29 (2): 32-40.

Priyadarshan, P.M., Sasikumar, S., and Concalves, D.(2001). Phenological changes in Hevea brasiliensis under differential geo climates. The Planter. 77: 447-481.

Siregar, T.H.S., Tohari, Hartiko, H., dan Karyudi. (2007). Dinamika perontokan dan pohon karet dan hasil lateks: I. Jumlah daun rontok dan hasil lateks. J. Penel. Karet, 25(1): 45-58.

Thomas dan Boerhendhy, I. (1988). Hubungan neraca air tanah dengan produksi karet klon GT 1 dan PR 261. Bull Perkebunan Rakyat. 4(1): 15-18.

Strategi Untuk Mengatasi Dampak Sosial Ekonomi Dari Harga Karet Yang Rendah

Indonesia merupakan negara produsen karet terbesar kedua di dunia setelah Thailand. Pada tahun 2018, luas areal karet Indonesia mencapai 3,67 juta ha dengan produksi mencapai 3,63 juta ton (Ditjenbun, 2019). Sebanyak 85% luas areal karet dimiliki oleh perkebunan rakyat sedangkan sisanya dimiliki oleh Perkebunan Besar Negara dan Perkebunan Besar Swasta, masing-masing 6% dan 9%. Perkebunan rakyat juga memegang peranan penting dalam menyumbang produksi karet nasional yaitu sebesar 83% dari total produksi nasional. Sumatera Selatan merupakan Provinsi penghasil karet terbesar di Indonesia dimana 90% nya adalah petani karet rakyat. Sebagian besar petani rakyat di Indonesia adalah petani tradisional yang mengusahakan karet dengan bantuan minimum dari pemerintah. 

Sejak tahun 2011, terjadi perubahan harga karet yang signifikan, dimana harga karet berfluktuasi dengan trend yang cenderung menurun (Gambar 1). Penurunan harga karet telah menimbulkan dampak di tingkat petani rakyat. Hasil penelitian Syarifa, dkk (2015) menunjukkan bahwa penurunan harga karet telah menurunkan pendapatan petani, menurunkan daya beli petani terutama untuk produk-produk sekunder, menurunnya kemampuan investasi petani terutama dalam hal peremajaan karet, serta berubahnya sumber pendapatan petani yang tidak hanya mengandalkan pendapatan dari karet. Beberapa orang petani mengalihkan perkebunan karetnya menjadi tanaman lain yang lebih prospektif. 


Gambar 1. Fluktuasi Harga Karet (1998-2020)

Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatasi harga karet yang rendah, diantaranya : 1). Meningkatkan konsumsi karet alam dalam negeri; 2). Mendorong petani untuk menanam tanaman sela di antara karet; dan 3). Meningkatkan kualitas dan memperbaiki rantai pemasaran karet. Pada tahun 2019, konsumsi karet alam dalam negeri Indonesia hanya 19% dari total produksi karet nasional. Lebih dari separuh karet alam Indonesia dikonsumsi oleh industri ban. Untuk itu, kedepannya pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan serapan karet alam dalam negeri melalui penggunaan karet alam untuk infrastruktur seperti aspal karet, dock fender, pintu irigasi, bantalan jembatan, bantalan rel kereta api; serta penggunaan karet alam untuk non-infrastruktur. Potensi peningkatan serapan karet alam untuk industri selain industri ban adalah sebesar 150.000 ton (meningkat menjadi 23%) (Tabel 1).

Tabel 1. Potensi peningkatan serapan karet alam domestik untuk produk non-ban

No

Jenis Produk

Ton/tahun

 

INFRASTRUKTUR

 

1

Aspal Karet

112,000

2

Dock fender

2,500

3

Pintu irigasi

1,000

4

Rubber DAM

200

5

Rail pad

350

6

Bantalan jembatan

500

 

Jumlah

116,550

 

NON INFRASTRUKTUR

 

7

Rubber cowmat

5,000

8

Conveyor-Belt

5,000

9

Lateks impor untuk glove

20,000

10

Produk lainnya

3,450

 

Jumlah

33,450

 

TOTAL

150,000

Pada kondisi harga karet saat ini yang masih fluktuatif, penanaman tanaman sela di antara karet merupakan pilihan yang tepat dan sangat menguntungkan, terutama dalam rangka meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan tambahan bagi petani. Saat ini telah dikembangkan pola tanaman sela di antara karet dengan jarak lebar. Demonstrasi plot jarak tanam lebar tanaman sela di antara karet telah dikembangkan di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Hasil penelitian Sahuri et al. (2019) diketahui bahwa dengan jarak tanam normal, pertumbuhan pohon karet pada tahun pertama sadap sedikit lebih baik dibandingkan dengan jarak tanam lebar, namun perbedaannya tidak signifikan. Hasil lateks per pohon dengan jarak tanam lebar dan jarak normal hampir sama, tetapi hasil lateks per hektar jauh lebih tinggi dengan jarak tanam lebar. Dengan menggunakan jarak tanam yang lebar ini, petani dapat menanam tanaman sela antara karet dengan tanaman komersial dan atau tanaman tahunan serta pengusahaan tanaman sela dapat berlangsung lama. 

Upaya lain agar petani tetap memperoleh harga yang layak pada kondisi harga karet yang rendah adalah dengan memperbaiki mutu bokar dan rantai pemasarannya. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkebunan sampai dengan tahun 2020, telah membentuk sebanyak 651 Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar, dimana sebanyak 496 UPPB telah teregister dan sisanya belum teregister (Ditjenbun, 2021). UPPB ini tersebar hampir di seluruh wilayah sentra karet di Indonesia (Tabel 2). Penjualan bokar melalui UPPB telah mampu memperbaiki mutu bokar dan meningkatkan bagian harga yang diterima oleh petani menjadi 85% sampai >90%. 

Tabel 2. Data jumlah UPPB di Indonesia

Sumber : Ditjenbun, 2021

 

PENYAKIT DAUN TANAMAN KARET

1905

Penyakit Gugur Daun Colletotrichum

(Colletotrichum gloeosporioides dan C. acutatum)

Pertama kali dilaporkan di Sri Lanka dan negara lainnya (Jayasinghe et al. 1997). Kerugian produksi lateks akibat penyakit ini sebesar 7% sampai 45% tergantung dari intensitas serangan patogen (Saha et al., 2002; Guixiu, 2014).

1918

Penyakit Gugur Daun Colletotrichum

Pertama kali dilaporkan di Indonesia. Gejala pada daun muda adalah daun mengeriput, menggulung, ujung daun mati, dan gugur. Gejala pada daun tua terdapat bercak kecil berwarna hitam, berlubang, dan bagian ujung mati. Serangan berat menyebabkan gugur daun dan tajuk meranggas (Shufen et al., 1999).

Penyakit Hawar Daun Amerika Selatan

(Microcyclus ulei)

Pertama kali dilaporkan di Suriname, Amerika Selatan (Lieberei, 2007). Di Indonesia cendawan M. ulei merupakan OPTK A1 yang berarti cendawan ini tidak terdapat di wilayah Indonesia dan dicegah masuknya ke dalam wilayah Indonesia (Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor 51 Tahun 2015).

1938

Penyakit Gugur Daun Oidium 

(Oidium heveae)

Pertama kali dilaporkan di Indonesia. Patogen menyerang daun karet muda, kuncup bunga, dan jaringan muda lainnya sehingga mengurangi hasil karet hingga 45% (Liyanage et al., 2016).

1958

Penyakit Gugur Daun Corynespora

(Corynespora cassiicola)

Pertama kali ditemukan di India, kemudian pada tahun 1960 ditemukan di Malaysia dan 1966 di Nigeria (Jayasinghe & Fernando, 2011).

1980 

Penyakit Gugur daun Corynespora 

Pertama kali dilaporkan di Indonesia. Patogen menyerang daun yang masih muda atau berwarna kecokelatan. Gejala pada daun karet terdapat bercak seperti sirip ikan dan warna daun menjadi kuning atau cokelat kemudian gugur (Situmorang et al., 2004).

1987 

Penyakit Hawar daun Fusicoccum

(Neofusicoccum ribis)

Pertama dilaporkan di Johor, Malaysia (Radziah & Chee, 1989), kemudian pada tahun 2003 dilaporkan kembali di Perak, Malaysia (Mahyudin & Zamri, 2018). Cendawan  N. ribis merupakan OPTK A2 yang penyebarannya terbatas di wilayah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan (Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor 51 Tahun 2015). Gejala khas pada daunmunculnya zona kecoklatan konsentris pada permukaan atas daun (Nyaka et al., 2012).

2013

Penyakit Gugur Daun Pestalotiopsis

(Pestalotiopsis microspora)

Dilaporkan terdapat di Cameroon (Nyaka et al., 2017). Gejala penyakit berupa bercak daun berbentuk bulat yang terdapat pada daun berwarna hijau sampai hijau tua. Daun yang terserang patogen dapat mengalami perubahan warna menjadi kuning atau oranye.

2017

Penyakit Gugur daun Pestalotiopsis 

Penyakit ditemukan di beberapa wilayah di Indonesia. Penyakit juga dilaporkan berkembang luas di beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, India, Thailand, dan Sri Lanka. Adanya kejadian penyakit tersebut menyebabkan terjadinya penurunan produksi lateks sampai 46% (Kusdiana et al., 2020).

Alchemi Putri Juliantika Kusdiana, M.Si.

Peneliti Proteksi Pusat Penelitian Karet

Sumber:

Jayasinghe CK, Fernando THPS, Priyanka UMS. 1997. Colletotrichum acutatum is the main cause of Colletotrichum leaf disease of rubber in Sri Lanka. Mycopathologia. 137:53–56. doi: 10.1023/A:1006850119146.

Jayasinghe CK, Fernando THPS. 2011. Corynespora Leaf Fall of Hevea Rubber the Most Threatening Leaf Disease in Asia & African Continents. Malaysia (MY): CFC & IRRDB.

Kusdiana  APJ, Sinaga MS, Tondok ET. 2020. Diagnosis Penyakit Gugur Daun Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.). Jurnal Penelitian Karet. 38(2). doi: 10.22302/ppk.jpk.v2i38.728.

Lieberei, R. 2007. South American Leaf Blight of the Rubber Tree (Hevea spp.): New Steps in Plant Domestication using Physiological Features and Molecular Markers. Ann Bot. 100(6): 1125–1142. doi: 10.1093/aob/mcm133.

Liyanage KK, Khan S, Mortimer PE, Hyde KD, Xu J, Brooks S, Ming Z. 2016. Powdery mildew disease of rubber tree. Forest Pathology. 46(2):90–103. doi: 10.1111/efp.12271.

Mahyudin MM, Zamri AMA. 2018. Strategies to minimize the incidence of Fusicoccum leaf blight. International Plant Protection Workshop 2018. Palembang: IRRI & IRRDB.

Nyaka NAIC, Abidin MAZ, Wong MY, Murnita MM. 2012. Cultural and morphological characterisations of Fusicoccum sp., the causal agent of rubber (Hevea brasiliensis) leaf blight in Malaysia. Journal of Rubber Research. 15(1):64-79.

Nyaka NAIC, Owona PAN, Oumar D,  Ntsomboh GN, Njonje SW, Ehabe EE. 2017. Characterization of Pestalotiopsis microspora, causal agent of leaf blight on rubber (Hevea brasiliensis) in Cameroon. Proceedings International Rubber Conference 2017. Bogor: IRRDB & IRRI.

Radziah NZ, Chee KH. 1989. A new foliar disease of rubber. Plant Pathology. 38:293-296. doi: 10.1111/j.1365-3059.1989.tb02147.x.

Shufen F, Gang G, Fucong Z. 1999. General situation of anthracnose of rubber trees and its researches in China. Proceedings of IRRDB Symposium 1999. China:Hainan Publishing House.

Situmorang A, Sinaga MS, Suseno R, Hidayat SH, Siswanto, Darussamin A. 2004. Status dan manajemen pengendalian penyakit gugur daun Corynespora di perkebunan karet. Prosiding Pertemuan Teknis. Palembang:  Pusat Penelitian Karet.