25/09/2022

Reduksi Emisi CO2 Dari Implikasi Teknologi Sekat Kanal Berbasis Komposit Karet Alam Di Lahan Gambut

Indonesia mempunyai sekitar 15 juta ha lahan gambut, dengan persentase penyebarannya terbesar di wilayah Sumatera, sebesar 43 %, sementara sisanya berada di Kalimantan dan Papua. Drainase pada lahan gambut untuk kegiatan pertanian dan perkebunan merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan emisi CO2 . Drainase yang berlebihan berdampak terjadinya subsiden lahan serta peningkatan oksidasi dan emisi CO2 tanah gambut. Hasil subsiden penelitian Wakhid et al (2017)  menunjukkan subsiden pada gambut untuk tanaman karet berkisar 5,64 – 5,96 cm/tahun. Demikian juga penelitian Hooijer et al (2012) yang menunjukkan subsiden 5,4 cm/tahun pada tanaman kelapa sawit. Berdasarkan hasil pengukuran dengan menggunakan  alat CO2/H2O gas analyzer merk LI-850 terlihat bahwa semakin rendah ketinggian muka air dari permukaan tanah, maka semakin tinggi laju emisi CO2 (Gambar 1). 


Gambar 1. Grafik hubungan antara akumulasi CO2 (µmol/mol) dan waktu (detik) pada berbagai ketinggian muka air dari permukaan tanah

Tata kelola air merupakan kunci untuk mengurangi emisi CO2. Pengaturan tinggi muka air tanah di lahan gambut ini dapat dilakukan dengan teknologi sekat kanal. Saat ini, sebagian besar pembuatan kanal yang dilakukan masyarakat maupun perusahaan belum mempertimbangkan pengaturan muka air dari lahan gambut. Kelemahan pembangunan sekat kanal yang dibuat secara tradisional dengan desain sederhana menggunakan kayu dan karung pasir adalah mudah bocor sehingga ketinggian muka air tidak dapat terjaga. Salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut adalah melalui teknologi sekat kanal berbasis komposit karet alam untuk mengatur drainase. Komposit karet alam memiliki kelebihan kedap air dan material penyokong sekat kanal seperti pasir, split, dan kerikil tidak mudah terhanyut.

Hasil implementasi dari teknologi sekat kanal berbasis komposit karet alam terbukti mampu menjaga tinggi muka air saat musim kering dan menurunkan subsiden pada lahan gambut. Selama periode musim kering (curah hujan < 50 mm), sekat kanal berbasis komposit karet alam mampu menahan air sebesar ± 15 cm di lahan gambut (Gambar 1). Reduksi emisi CO2 melalui perbedaan ketinggian muka air berdasarkan metode empirik adalah 34,73 ton CO2-eq/ha/hari atau  setara 12.506 ton CO2-eq/ha/tahun. 

Gambar 1. Perbedaan ketinggian muka air didalam (A) dan diluar sekat kanal (B) saat periode musim kering. Perbedaan ketinggian muka air ditnadai dengan air yang mengalir dari dalam ke luar sekat kanal

Daftar Pustaka :

Hooijer, A., Page, S., Jauhiainen, J., Lee, W. A., Lu, X. X., Idris, A., & Anshari, G. (2012). Subsidence and carbon loss in drained tropical peatlands. Biogeosciences, 9(3), 1053–1071. https://doi.org/10.5194/bg-9-1053-2012

Wakhid, N., Hirano, T., Okimoto, Y., Nurzakiah, S., & Nursyamsi, D. (2017). Soil carbon dioxide emissions from a rubber plantation on tropical peat. Science of The Total Environment, 581–582, 857–865. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2017.01.035