25/09/2022

Publikasi

Seleksi Toleransi Kekeringan Bibit Karet GT1 Dengan Penambahan Polietilen Glikol (PEG) 6000

Toleransi batang bawah karet terhadap cekaman kekeringan belum banyak diteliti. Sistem perakaran dapat digunakan sebagai indikator toleransi kekeringan dalam menghambat pertumbuhan tanaman. Sistem perakaran batang bawah karet dianggap dapat membantu tanaman memperoleh ketahanan yang lebih besar terhadap cekaman kekeringan. Larutan osmotik polietilen glikol (PEG) 6000 dapat mengontrol potensi air dalam media tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh larutan osmotik PEG 6000 (0%; 7,5%; dan 15%) terhadap bibit karet berdasarkan  karakter morfologi dan indeks sensitivitas. Benih karet GT1 (Gondang Tapen 1) yang digunakan sebagai bahan tanam berasal dari kebun benih PT. Socfin Indonesia (Gambar 1). Karakter morfologi yang jadikan sebagi bahan amatan adalah panjang akar tunggang, tinggi tunas, dan laju pertambahan panjang akar tunggang, laju pertambahan tinggi tunas, rasio panjang akar tunggang dan tinggi tunas. Data dianalisis menggunakan analisis varian, diskriminan, dan indeks sensitivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan PEG 6000 pada media tanam secara in vitro berpengaruh nyata terhadap karakter laju pertambahan panjang akar tunggang. Indeks sensitivitas laju pertambahan akar tunggang dan rasio panjang akar tunggang dan tinggi tunas tergolong sedang (7,5%). Laju pertambahan panjang akar tunggang merupakan karakter pembeda yang menunjukkan tingkat toleransi awal bibit GT1 terhadap kekeringan.

Pengaruh cekaman kekeringan antara lain terhambatnya pertumbuhan tanaman, sehingga laju pertumbuhan lilit batang lambat, dengan waktu buka sadap yang lama (>6 tahun). Pengembangan batang bawah toleran kering diyakini dapat menyiapkan sistem perakaran yang kuat di bawah kondisi stres. Seleksi in vitro terhadap cekaman kekeringan memiliki keunggulan komparatif, antara lain seleksi cepat, tidak membutuhkan ruang luas, dan mudah diawasi. Jenis benih batang bawah yang dersedia di lapangan antara lain benih GT1 (Gondang Tapen 1). Pengaruh larutan osmotik PEG 6000 terhadap karakter morfologi dan indeks sensitivitas perlu diketahui terhadap beberapa konsentrasi PEG 6000.

Simulasi cekaman kekeringan pada tanaman dilakukan dengan penambahan polietilen glikol (PEG). Cekaman air menurunkan persentase panjang radikula dan plumula perkecambahan biji. Perkecambahan tanaman dan pertumbuhan bibit sangat penting untuk pembentukan awal tanaman pada kondisi cekaman air. Pengurangan pertumbuhan merupakan parameter penting untuk mengevaluasi toleransi cekaman air. Keadaan ini terjadi karena pertumbuhan berhubungan langsung dengan massa, dan kemungkinan kerusakan massa ketika tanaman mengalami cekaman air. Bagian tumbuhan yang menyerap air dan unsur hara adalah akar. Faktor-faktor yang mempengaruhi banyaknya air yang diserap oleh tanaman adalah kandungan air dalam tanah, air yang tersimpan di dalam tanah, dan kemampuan akar tanaman untuk menyerap air. Akar pada tanaman yang kekurangan air akan meningkatkan luas dan kedalaman sistem akar untuk menyerap air. Analisis varian  panjang akar tunggang menunjukkan adanya perbedaan antara ketiga perlakuan, hal ini menunjukkan bahwa PEG 6000 telah mempengaruhi panjang akar tunggang pada masing-masing perlakuan. Secara umum dilihat dari rata-rata dan koefisien variasi pertumbuhan akar tunggang mulai terhambat, dengan pertumbuhan panjang akar tunggang menurun pada perlakuan PEG 6000 7,5% dan 15% (Gambar 2). Tanaman dengan tingkat toleransi baik terhadap cekaman air menunjukkan persentase kehilangan panjang akar dan panjang tunas relatif kecil.

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perkecambahan dan pertumbuhan bibit yang digunakan dalam suatu percobaan dapat membantu  membedakan antara kultivar yang toleran dan rentan, ketika evaluasi cekaman air dengan penambahan PEG 6000. Berdasarkan nilai indeks sensitivitas, karakter yang diamati diklasifikasikan sebagai kelompok sensitif (IS> 1). Nilai IS menunjukkan bahwa genotipe yang diuji pada kondisi sub-optimal menunjukkan penurunan pertumbuhan sehingga dikatakan genotipe tersebut tidak toleran. Berdasarkan indeks sensitivitas cekaman air (IS) pada variabel persentase perkecambahan, panjang akar seminal, panjang tunas, panjang kecambah, bobot kering akar seminal, bobot kering pucuk, dan vigor benih, menunjukkan toleransi beragam dengan perlakuan PEG 6000.

Penghindaran dan toleransi kekeringan adalah dua mekanisme dimana tanaman beradaptasi di bawah tekanan air. Karena mekanisme ini sulit untuk dievaluasi secara terpisah dalam eksperimen lapangan menggunakan kultur hidroponik, hasil penelitian menunjukkan bahwa toleransi genetik kekeringan tanpa adanya efek penghindaran. Penelitian terkait penggunaan PEG 6000 untuk simulasi toleransi kekeringan pada batang bawah tanaman karet masih terbatas diteliti. Beberapa taraf PEG 6000 (15%, 25%, 35%) digunakan untuk menilai ketahanan klon RRIM 600 terhadap cekaman kekeringan dengan merendam benih selama tujuh hari dalam larutan. Penilaian dilakukan terhadap karakter fisiologis (superoksida dismutase, katalase, gula terlarut, prolin, hidrogen peroksida, dan radikal bebas superoksida Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai penilaian awal batang bawah untuk digunakan pada saat okulasi, terutama jika akan dibuka perkebunan karet di areal nyata yang tergolong kering.

Laju pertambahan panjang akar tunggang merupakan karakteristik pembeda yang dapat diterapkan untuk menilai tingkat toleransi awal bibit GT1 terhadap kekeringan. Nilai indeks sensitivitas menunjukkan bahwa karakter laju pertambahan akar tunggang dan rasio panjang akar tunggang dan tinggi tunas tergolong sedang.

Gambar  1. A. Bibit klon karet GT1; B. Bibit karet setelah 14 hari ditanam di media pasir; C. Bibit karet ditanam pada media cair  ¼ MS + PEG 6000 (0%, 7,5%, 15%)

Gambar 2. Visual akar dan tunas GT1 pada media ¼ MS yang ditambahkan berbagai kadar PEG 6000 pada 0% (A), 7,5% (B), dan 15% (C).

Sumber:

Syarifah Aini Pasaribu, Mohammad Basyuni, Edison Purba, dan Yaya Hasanah. 2021. Drought tolerance selection of GT1 rubber seedlings with the addition of polyethylene glycol (PEG) 6000. Biodiversitas, 22 (1): 394-440. DOI: 10.13057/biodiv/d220148

Pengaruh Kondisi Perdaunan Terhadap Hasil Lateks Pada Tanaman Karet

Pertumbuhan dan produktivitas tanaman karet (Hevea brasiliensis) ditentukan oleh faktor genotipe (G), faktor lingkungan (E), dan interaksi genotipe x lingkungan (GxE). Kondisi lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap produksi karet salah satunya  adalah kondisi curah hujan. Tanaman karet memiliki sifat menggugurkan daun pada setiap musim kemarau, gugur daun terjadi seiring adanya perubahan pola curah hujan bulanan. Kondisi curah hujan rendah mengakibatkan tanaman karet menggugurkan daun secara alami sebagai respon terhadap cekaman kekeringan yang terjadi pada bulan-bulan kering setiap tahunnya. Setiap klon tentunya akan memiliki respon yang berbeda terhadap perubahan jumlah curah hujan yang terjadi pada setiap bulannya. Gugur daun fisiologi yang terjadi pada tanaman karet  merupakan respon tanaman untuk mencegah transpirasi berlebih pada saat terjadinya cekaman kekeringan. Secara genetik tentunya masing-masing klon memiliki mekanisme adaptasi yang berbeda pada saat terjadinya perubahan lingkungan. 

Dinamika gugur daun pada tanaman karet terdiri dari lima fase yaitu fase 1 yang ditandai dengan muncul tanda-tanda daun menguning sampai daun kuning sebagian, fase 2 yang ditandai dengan kondisi daun kuning menyeluruh dan sebagian lagi sudah gugur, fase 3 ditandai dengan semua daun gugur dan muncul kuncup daun berwarna cokelat, fase 4 ditandai dengan daun mulai berwarna hijau muda, dan fase 5 ditandai dengan kondisi daun berwarna hijau tua.

Fase perdaunan pada tanaman karet

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa dinamika fase gugur daun memiliki pengaruh nyata terhadap hasil lateks. 

Pengaruh fase daun terhadap hasil lateks dari beberapa genotype karet

Jika ditinjau dari dinamika fase gugur daun menunjukkan bahwa hasil lateks (g/p/s) paling tinggi terdapat  pada fase 5, sedangkan paling rendah terjadi pada kondisi daun fase 3 dan 4. Hasil lateks pada kondisi daun fase 1 tidak berbeda dengan fase 2. Fluktuasi hasil lateks sangat dipengaruhi oleh kondisi daun tanaman. Kondisi perdaunan karet memiliki hubungan yang erat kaitannya dengan distribusi curah hujan. Turunnya kadar air tanah pada saat musim kemarau akan mempengaruhi penyerapan air dan unsur hara tanaman yang selanjutnya akan mempengaruhi metabolisme dan pertumbuhan tanaman. Salah satu fungsi utama air bagi tanaman adalah mempertahankan turgiditas sel dan jaringan tanaman yang penting bagi kelangsungan aktivitas sel dalam pembelahan dan pemanjangan sel. Pengaruh langsung yang terjadi akibat kekurangan air berkepanjangan yaitu berkurangnya laju pertumbuhan, sehingga ukuran tanaman dan hasil lateks rendah dibandingkan saat tanaman dalam kondisi normal. 

Tanaman yang memiliki kecukupan air akan lebih efektif dalam kegiatan fotosintesis untuk menghasilkan asimilat. Kapasitas fotosintesis tanaman karet menurun saat gugur daun, sehingga hasil lateks pada klon karet umumnya  juga menurun. Penurunan hasil lateks terjadi secara nyata pada saat pembentukan kuncup daun dan daun muda yaitu pada fase 3 dan 4. Hasil lateks yang rendah pada fase tersebut diduga disebabkan karbohidrat yang dihasilkan  pada saat fotosintesis yang terdapat pada tanaman lebih diutamakan untuk pertumbuhan tanaman dibandingkan untuk mensintesis partikel karet.

Referensi:

Oktavia, F., dan Lasminingsih, M. (2010). Pengaruh kondisi daun tanaman karet terhadap keragaman hasil sadap beberapa klon seri IRR. J. Penel. Karet. 29 (2): 32-40.

Priyadarshan, P.M., Sasikumar, S., and Concalves, D.(2001). Phenological changes in Hevea brasiliensis under differential geo climates. The Planter. 77: 447-481.

Siregar, T.H.S., Tohari, Hartiko, H., dan Karyudi. (2007). Dinamika perontokan dan pohon karet dan hasil lateks: I. Jumlah daun rontok dan hasil lateks. J. Penel. Karet, 25(1): 45-58.

Thomas dan Boerhendhy, I. (1988). Hubungan neraca air tanah dengan produksi karet klon GT 1 dan PR 261. Bull Perkebunan Rakyat. 4(1): 15-18.

Strategi Untuk Mengatasi Dampak Sosial Ekonomi Dari Harga Karet Yang Rendah

Indonesia merupakan negara produsen karet terbesar kedua di dunia setelah Thailand. Pada tahun 2018, luas areal karet Indonesia mencapai 3,67 juta ha dengan produksi mencapai 3,63 juta ton (Ditjenbun, 2019). Sebanyak 85% luas areal karet dimiliki oleh perkebunan rakyat sedangkan sisanya dimiliki oleh Perkebunan Besar Negara dan Perkebunan Besar Swasta, masing-masing 6% dan 9%. Perkebunan rakyat juga memegang peranan penting dalam menyumbang produksi karet nasional yaitu sebesar 83% dari total produksi nasional. Sumatera Selatan merupakan Provinsi penghasil karet terbesar di Indonesia dimana 90% nya adalah petani karet rakyat. Sebagian besar petani rakyat di Indonesia adalah petani tradisional yang mengusahakan karet dengan bantuan minimum dari pemerintah. 

Sejak tahun 2011, terjadi perubahan harga karet yang signifikan, dimana harga karet berfluktuasi dengan trend yang cenderung menurun (Gambar 1). Penurunan harga karet telah menimbulkan dampak di tingkat petani rakyat. Hasil penelitian Syarifa, dkk (2015) menunjukkan bahwa penurunan harga karet telah menurunkan pendapatan petani, menurunkan daya beli petani terutama untuk produk-produk sekunder, menurunnya kemampuan investasi petani terutama dalam hal peremajaan karet, serta berubahnya sumber pendapatan petani yang tidak hanya mengandalkan pendapatan dari karet. Beberapa orang petani mengalihkan perkebunan karetnya menjadi tanaman lain yang lebih prospektif. 


Gambar 1. Fluktuasi Harga Karet (1998-2020)

Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatasi harga karet yang rendah, diantaranya : 1). Meningkatkan konsumsi karet alam dalam negeri; 2). Mendorong petani untuk menanam tanaman sela di antara karet; dan 3). Meningkatkan kualitas dan memperbaiki rantai pemasaran karet. Pada tahun 2019, konsumsi karet alam dalam negeri Indonesia hanya 19% dari total produksi karet nasional. Lebih dari separuh karet alam Indonesia dikonsumsi oleh industri ban. Untuk itu, kedepannya pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan serapan karet alam dalam negeri melalui penggunaan karet alam untuk infrastruktur seperti aspal karet, dock fender, pintu irigasi, bantalan jembatan, bantalan rel kereta api; serta penggunaan karet alam untuk non-infrastruktur. Potensi peningkatan serapan karet alam untuk industri selain industri ban adalah sebesar 150.000 ton (meningkat menjadi 23%) (Tabel 1).

Tabel 1. Potensi peningkatan serapan karet alam domestik untuk produk non-ban

No

Jenis Produk

Ton/tahun

 

INFRASTRUKTUR

 

1

Aspal Karet

112,000

2

Dock fender

2,500

3

Pintu irigasi

1,000

4

Rubber DAM

200

5

Rail pad

350

6

Bantalan jembatan

500

 

Jumlah

116,550

 

NON INFRASTRUKTUR

 

7

Rubber cowmat

5,000

8

Conveyor-Belt

5,000

9

Lateks impor untuk glove

20,000

10

Produk lainnya

3,450

 

Jumlah

33,450

 

TOTAL

150,000

Pada kondisi harga karet saat ini yang masih fluktuatif, penanaman tanaman sela di antara karet merupakan pilihan yang tepat dan sangat menguntungkan, terutama dalam rangka meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan tambahan bagi petani. Saat ini telah dikembangkan pola tanaman sela di antara karet dengan jarak lebar. Demonstrasi plot jarak tanam lebar tanaman sela di antara karet telah dikembangkan di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Hasil penelitian Sahuri et al. (2019) diketahui bahwa dengan jarak tanam normal, pertumbuhan pohon karet pada tahun pertama sadap sedikit lebih baik dibandingkan dengan jarak tanam lebar, namun perbedaannya tidak signifikan. Hasil lateks per pohon dengan jarak tanam lebar dan jarak normal hampir sama, tetapi hasil lateks per hektar jauh lebih tinggi dengan jarak tanam lebar. Dengan menggunakan jarak tanam yang lebar ini, petani dapat menanam tanaman sela antara karet dengan tanaman komersial dan atau tanaman tahunan serta pengusahaan tanaman sela dapat berlangsung lama. 

Upaya lain agar petani tetap memperoleh harga yang layak pada kondisi harga karet yang rendah adalah dengan memperbaiki mutu bokar dan rantai pemasarannya. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkebunan sampai dengan tahun 2020, telah membentuk sebanyak 651 Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar, dimana sebanyak 496 UPPB telah teregister dan sisanya belum teregister (Ditjenbun, 2021). UPPB ini tersebar hampir di seluruh wilayah sentra karet di Indonesia (Tabel 2). Penjualan bokar melalui UPPB telah mampu memperbaiki mutu bokar dan meningkatkan bagian harga yang diterima oleh petani menjadi 85% sampai >90%. 

Tabel 2. Data jumlah UPPB di Indonesia

Sumber : Ditjenbun, 2021

 

PENYAKIT DAUN TANAMAN KARET

1905

Penyakit Gugur Daun Colletotrichum

(Colletotrichum gloeosporioides dan C. acutatum)

Pertama kali dilaporkan di Sri Lanka dan negara lainnya (Jayasinghe et al. 1997). Kerugian produksi lateks akibat penyakit ini sebesar 7% sampai 45% tergantung dari intensitas serangan patogen (Saha et al., 2002; Guixiu, 2014).

1918

Penyakit Gugur Daun Colletotrichum

Pertama kali dilaporkan di Indonesia. Gejala pada daun muda adalah daun mengeriput, menggulung, ujung daun mati, dan gugur. Gejala pada daun tua terdapat bercak kecil berwarna hitam, berlubang, dan bagian ujung mati. Serangan berat menyebabkan gugur daun dan tajuk meranggas (Shufen et al., 1999).

Penyakit Hawar Daun Amerika Selatan

(Microcyclus ulei)

Pertama kali dilaporkan di Suriname, Amerika Selatan (Lieberei, 2007). Di Indonesia cendawan M. ulei merupakan OPTK A1 yang berarti cendawan ini tidak terdapat di wilayah Indonesia dan dicegah masuknya ke dalam wilayah Indonesia (Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor 51 Tahun 2015).

1938

Penyakit Gugur Daun Oidium 

(Oidium heveae)

Pertama kali dilaporkan di Indonesia. Patogen menyerang daun karet muda, kuncup bunga, dan jaringan muda lainnya sehingga mengurangi hasil karet hingga 45% (Liyanage et al., 2016).

1958

Penyakit Gugur Daun Corynespora

(Corynespora cassiicola)

Pertama kali ditemukan di India, kemudian pada tahun 1960 ditemukan di Malaysia dan 1966 di Nigeria (Jayasinghe & Fernando, 2011).

1980 

Penyakit Gugur daun Corynespora 

Pertama kali dilaporkan di Indonesia. Patogen menyerang daun yang masih muda atau berwarna kecokelatan. Gejala pada daun karet terdapat bercak seperti sirip ikan dan warna daun menjadi kuning atau cokelat kemudian gugur (Situmorang et al., 2004).

1987 

Penyakit Hawar daun Fusicoccum

(Neofusicoccum ribis)

Pertama dilaporkan di Johor, Malaysia (Radziah & Chee, 1989), kemudian pada tahun 2003 dilaporkan kembali di Perak, Malaysia (Mahyudin & Zamri, 2018). Cendawan  N. ribis merupakan OPTK A2 yang penyebarannya terbatas di wilayah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan (Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor 51 Tahun 2015). Gejala khas pada daunmunculnya zona kecoklatan konsentris pada permukaan atas daun (Nyaka et al., 2012).

2013

Penyakit Gugur Daun Pestalotiopsis

(Pestalotiopsis microspora)

Dilaporkan terdapat di Cameroon (Nyaka et al., 2017). Gejala penyakit berupa bercak daun berbentuk bulat yang terdapat pada daun berwarna hijau sampai hijau tua. Daun yang terserang patogen dapat mengalami perubahan warna menjadi kuning atau oranye.

2017

Penyakit Gugur daun Pestalotiopsis 

Penyakit ditemukan di beberapa wilayah di Indonesia. Penyakit juga dilaporkan berkembang luas di beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, India, Thailand, dan Sri Lanka. Adanya kejadian penyakit tersebut menyebabkan terjadinya penurunan produksi lateks sampai 46% (Kusdiana et al., 2020).

Alchemi Putri Juliantika Kusdiana, M.Si.

Peneliti Proteksi Pusat Penelitian Karet

Sumber:

Jayasinghe CK, Fernando THPS, Priyanka UMS. 1997. Colletotrichum acutatum is the main cause of Colletotrichum leaf disease of rubber in Sri Lanka. Mycopathologia. 137:53–56. doi: 10.1023/A:1006850119146.

Jayasinghe CK, Fernando THPS. 2011. Corynespora Leaf Fall of Hevea Rubber the Most Threatening Leaf Disease in Asia & African Continents. Malaysia (MY): CFC & IRRDB.

Kusdiana  APJ, Sinaga MS, Tondok ET. 2020. Diagnosis Penyakit Gugur Daun Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.). Jurnal Penelitian Karet. 38(2). doi: 10.22302/ppk.jpk.v2i38.728.

Lieberei, R. 2007. South American Leaf Blight of the Rubber Tree (Hevea spp.): New Steps in Plant Domestication using Physiological Features and Molecular Markers. Ann Bot. 100(6): 1125–1142. doi: 10.1093/aob/mcm133.

Liyanage KK, Khan S, Mortimer PE, Hyde KD, Xu J, Brooks S, Ming Z. 2016. Powdery mildew disease of rubber tree. Forest Pathology. 46(2):90–103. doi: 10.1111/efp.12271.

Mahyudin MM, Zamri AMA. 2018. Strategies to minimize the incidence of Fusicoccum leaf blight. International Plant Protection Workshop 2018. Palembang: IRRI & IRRDB.

Nyaka NAIC, Abidin MAZ, Wong MY, Murnita MM. 2012. Cultural and morphological characterisations of Fusicoccum sp., the causal agent of rubber (Hevea brasiliensis) leaf blight in Malaysia. Journal of Rubber Research. 15(1):64-79.

Nyaka NAIC, Owona PAN, Oumar D,  Ntsomboh GN, Njonje SW, Ehabe EE. 2017. Characterization of Pestalotiopsis microspora, causal agent of leaf blight on rubber (Hevea brasiliensis) in Cameroon. Proceedings International Rubber Conference 2017. Bogor: IRRDB & IRRI.

Radziah NZ, Chee KH. 1989. A new foliar disease of rubber. Plant Pathology. 38:293-296. doi: 10.1111/j.1365-3059.1989.tb02147.x.

Shufen F, Gang G, Fucong Z. 1999. General situation of anthracnose of rubber trees and its researches in China. Proceedings of IRRDB Symposium 1999. China:Hainan Publishing House.

Situmorang A, Sinaga MS, Suseno R, Hidayat SH, Siswanto, Darussamin A. 2004. Status dan manajemen pengendalian penyakit gugur daun Corynespora di perkebunan karet. Prosiding Pertemuan Teknis. Palembang:  Pusat Penelitian Karet.

TIPS AGAR PENYADAPAN DOUBLE CUT PADA KLON KARET METABOLISME RENDAH LEBIH OPTIMAL

Penyadapan karet menggunakan irisan ganda (double cut/DC) sudah lebih dari 1 dasawarsa diterapkan di perkebunan karet, yaitu sejak dikenalkan sistem sadap berdasarkan perbedaan metabolisme lateksnya, atau dikenal dengan istilah sistem sadap berdasarkan tipologi klon. 

Penyadapan DC dilakukan pada klon yang metabolisme lateksnya tergolong sedang dan rendah, seperti GT 1, BPM 1, BPM 24, BPM 107, BPM 109, PR 255, PR 261, PR 300, PR 303, PB 217, PB 330, RRIC 100, RRIC 102, RRIC 110, RRIM 717, IRR 9, AVROS 2037, TM 2, TM 6, TM 8, dan TM 9. Sistem sadap DC diterapkan di panel BI dan H0, umumnya dimulai sejak umur TM ke-11. Penyadapan pada klon tersebut  dilakukan dengan cara mengiris panel kulit pulihan (BI) S/2 dan dikombinasi panel atas (H0) S/4U + etefon.  Penambahan irisan ¼SU + etefon di panel atas (H0) melalui penyadapan DC terbukti dapat mengoptimalkan perolehan produksi ketika panel bawah (BI) melemah. 

Penerapan sistem sadap DC seringkali di luar ekspektasi. Hal yang jelas terlihat adalah konsumsi kulit semenjak disadap DC terkesan semakin boros dan tren produksi menurun.  Padahal, sebenarnya hal  tersebut terjadi akibat kurang disiplin penjagaan mutu  sadap  dan  lemahnya  kontrol   sadap, sehingga mutu sadap jelek. Mutu sadap jelek utamanya ditandai dengan irisan tebal (>2,5 mm/sadap), panjang irisan panel atas (H0) > S/4U dan banyak luka kayu. Dampak jangka panjang yang timbul adalah panel habis sebelum waktunya. Hasil pengamatan di beberapa perkebunan karet  menunjukkan bahwa sekitar 22,2% mutu sadap DC tergolong baik, sedangkan 44,4% tergolong cukup baik, dan 33,3% tergolong jelek.  

Sistem sadap DC sudah memiliki panduan agar perolehan produksinya optimal, yaitu tergambar dalam tataguna panel sebagai berikut:

Idealnya, penyadapan DC dapat berlangsung selama 8 tahun, yaitu sejak TM ke-11 s.d ke-18. Potensi perolehan produktivitas per hektar per tahun  mencapai sekitar 2 ton/ha/th. Mutu sadap yang jelek dan kontrol sadap yang lemah mengakibatkan potensi tersebut tidak dapat dicapai. GPS atau produktivitas individu tanaman (gr/pohon/sadap) pada kondisi demikian biasanya juga sangat rendah, hanya berkisar 30-35 gr/pohon/sadap atau bahkan kurang. Padahal potensi atau idealnya adalah sekitar 50 gr/pohon/sadap.  

Potensi produksi dan umur ekonomi tersebut dapat dicapai jika penyadapan DC dilakukan secara benar, yaitu sebagai berikut:

  1. Penjagaan mutu sadap, terutama konsumsi kulit panel atas (H0).
  2. Evaluasi produksi secara lebih ketat, bahkan dalam satuan GPS.  Apabila GPS kurang dari potensinya, lakukan pengecekan :

Apakah semua pohon tuntas disadap?

Apakah semua panel tuntas disadap (jangan ada sadap pincang)?

Apakah stimulan sudah efektif?

Apakah waktu / durasi menyadap normal? dsb 

  1. Hindari penyadapan DC yang menimbulkan bark island atau cikalan. 

DAFTAR PUSTAKA

Akhmad Rouf, Mudita Oktorina Nugrahani, dan Yoga Bagus Setya Aji. 2020. Penerapan Sistem Sadap Irisan Ganda (Double Cut) Pada Klon Karet Slow Starter  (Studi kasus di beberapa perkebunan karet wilayah Jawa). Pros. Semnas PKM Center UNS. Hal: 194-198. 

Sumarmadji, Akhmad Rouf, Yoga Bagus Setya Aji, dan Titik Widyasari. 2017. Optimalisasi Produksi dan Penekanan Biaya Penyadapan dengan Sistem Sadap Intensitas Rendah. Warta Perkaretan  2017 Vol 36 No 1. Hal: 39-54. 

Sumarmadji, Junaidi, Atminingsih, Kuswanhadi, Akhmad Rouf. 2012. Paket teknologi penyadapan untuk optimasi produksi sesuai tipologi klon. Pros. Konf. Nas. Karet. Yogyakarta, 19-20 September 2012. Pusat Penelitian Karet. Hal: 207-216.

(Akhmad Rouf – Kelti Agronomi / Fisiologi Penyadapan Tanaman Karet)

Reduksi Emisi CO2 Dari Implikasi Teknologi Sekat Kanal Berbasis Komposit Karet Alam Di Lahan Gambut

Indonesia mempunyai sekitar 15 juta ha lahan gambut, dengan persentase penyebarannya terbesar di wilayah Sumatera, sebesar 43 %, sementara sisanya berada di Kalimantan dan Papua. Drainase pada lahan gambut untuk kegiatan pertanian dan perkebunan merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan emisi CO2 . Drainase yang berlebihan berdampak terjadinya subsiden lahan serta peningkatan oksidasi dan emisi CO2 tanah gambut. Hasil subsiden penelitian Wakhid et al (2017)  menunjukkan subsiden pada gambut untuk tanaman karet berkisar 5,64 – 5,96 cm/tahun. Demikian juga penelitian Hooijer et al (2012) yang menunjukkan subsiden 5,4 cm/tahun pada tanaman kelapa sawit. Berdasarkan hasil pengukuran dengan menggunakan  alat CO2/H2O gas analyzer merk LI-850 terlihat bahwa semakin rendah ketinggian muka air dari permukaan tanah, maka semakin tinggi laju emisi CO2 (Gambar 1). 


Gambar 1. Grafik hubungan antara akumulasi CO2 (µmol/mol) dan waktu (detik) pada berbagai ketinggian muka air dari permukaan tanah

Tata kelola air merupakan kunci untuk mengurangi emisi CO2. Pengaturan tinggi muka air tanah di lahan gambut ini dapat dilakukan dengan teknologi sekat kanal. Saat ini, sebagian besar pembuatan kanal yang dilakukan masyarakat maupun perusahaan belum mempertimbangkan pengaturan muka air dari lahan gambut. Kelemahan pembangunan sekat kanal yang dibuat secara tradisional dengan desain sederhana menggunakan kayu dan karung pasir adalah mudah bocor sehingga ketinggian muka air tidak dapat terjaga. Salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut adalah melalui teknologi sekat kanal berbasis komposit karet alam untuk mengatur drainase. Komposit karet alam memiliki kelebihan kedap air dan material penyokong sekat kanal seperti pasir, split, dan kerikil tidak mudah terhanyut.

Hasil implementasi dari teknologi sekat kanal berbasis komposit karet alam terbukti mampu menjaga tinggi muka air saat musim kering dan menurunkan subsiden pada lahan gambut. Selama periode musim kering (curah hujan < 50 mm), sekat kanal berbasis komposit karet alam mampu menahan air sebesar ± 15 cm di lahan gambut (Gambar 1). Reduksi emisi CO2 melalui perbedaan ketinggian muka air berdasarkan metode empirik adalah 34,73 ton CO2-eq/ha/hari atau  setara 12.506 ton CO2-eq/ha/tahun. 

Gambar 1. Perbedaan ketinggian muka air didalam (A) dan diluar sekat kanal (B) saat periode musim kering. Perbedaan ketinggian muka air ditnadai dengan air yang mengalir dari dalam ke luar sekat kanal

Daftar Pustaka :

Hooijer, A., Page, S., Jauhiainen, J., Lee, W. A., Lu, X. X., Idris, A., & Anshari, G. (2012). Subsidence and carbon loss in drained tropical peatlands. Biogeosciences, 9(3), 1053–1071. https://doi.org/10.5194/bg-9-1053-2012

Wakhid, N., Hirano, T., Okimoto, Y., Nurzakiah, S., & Nursyamsi, D. (2017). Soil carbon dioxide emissions from a rubber plantation on tropical peat. Science of The Total Environment, 581–582, 857–865. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2017.01.035

Rubber Downstream Sector Goes To Green

Increasing awareness of environmental sustainability has provoked rubber scientist and rubber compounder to develop green polymer and bio-based rubber chemicals when designing rubber compound formula. The concept of green polymer is implemented with the development of specialty natural rubber. Specialty natural rubber is made by chemical modification of natural rubber mainly in latex phase to substitute petro-based synthetic rubber. 

Natural rubber has weakness which can limit its usage in the manufacture of rubber goods primarily for outdoor application. Naturally, natural rubber exhibits low thermal oxidative aging resistance and swelled when immersed in oil or hydrocarbon solvent. This is due to the presence of high degree of unsaturated C double bond in its molecular chains and non-polar character of natural rubber although it also show high molecular weight with wide polydispercity index.

Commercial natural rubber latex is a white milky sap biopolymer derived from exploitation of rubber plant Hevea brasiliensis Muell Arg. Natural rubber molecules form 1,4 cis-configuration which composed of repeating monomer units of isoprene (2-methyl-1,3-butadiene). This biopolymer is highly potential to be modified chemically to enhance the property. Referred to Hashim and Ong (2007), chemical modification of natural rubber latex can be conducted through the following procedure :  

  1. Modification by bond rearrangement without introducing new atoms which lead to changes in the chemical structure and/or reduction in molecular weight. Ex : cyclization, deproteinization
  2. Modification by introducing a chemical group via addition or substitution reactions at the unsaturated double bonds. Ex : epoxidation, hydrogenation 
  3. Modification by grafting with one or two molecules usually vinyl monomers at the allylic carbon. This method is often applied in the synthesize of thermoplastic natural rubber. Ex : graft copolymerization of MMA ad styrene into natural rubber latex 

Research Center for Rubber Technology – Indonesian Rubber Research Institute (IRRI) has successfully developed a type of specialty natural rubber such as epoxidized natural rubber (ENR), hydrogenated natural rubber (HNR), and graft copolymerization MMA/Styrene/NR (NR-g-MMA/St) at laboratory scale. HNR was produced by IRRI had 60% degree of hydrogenation. This type of specialty natural rubber is regarded as promising material to substitute EPDM and Chloroprene rubber. Meanwhile, ENR is potential to be used to replace NBR as base material for oil resistant rubber product. Furthermore, the possibility usage of NR-g-MMA/St still need to be explored, one of them is an additive for polymer modified asphalt to eliminate Styrene Butadiene Styrene (SBS) role. 

In line with the development of specialty natural rubber, researchers are also has great interest in developing bio-based rubber chemicals. Rubber chemicals are added during rubber compounding process to improve rubber performance. Rubber chemicals include processing aid, rubber processing oil, reinforcing filler, antioxidant, antiozonant, activator, accelerator, and vulcanizing agent. Bio based rubber chemicals are made from renewable natural source. 

Sulfur vulcanization of vegetable oil at high temperature can produce brown factice. Brown factice is a cheap extender rubber-like material. The visualization of brown factice could be categorized from its colour, from yellow, brown to dark brown. Using brown factice in rubber compound improves the process-ability of the compound during extrusion and injection moulding, furthermore it is also provide excellent dimension stability of the rubber product.  Therefore, brown factice mainly use during the rubber seal and rubber hose manufacturing.

Pine tar oil is sticky dark liquid resulted from destructive distillation of wood of various trees of the family Pinaceae. This material is regarded as alternative bio plasticizer or rubber processing oil to substitute petro based aromatic oil. Pine tar oil play important role in increasing adhesion strength (rubber to rubber) of rubber compound. Therefore, pine tar oil is suitable to be added in rubber compound formulation for production of cushion gum. Cushion gum is a thin intermediate rubber compound layer which is applied on the casing outer surface to bond the pre-cured tread as adhesion medium of retread tyre.  

Santi Puspitasari

Rubber Technology Researcher  

Research Center for Rubber Technology 

Indonesian Rubber Research Institute 

Penggunaan Rainguard Sebagai Upaya Antisipasi Fenomena Anomali Iklim LA-NINA Pada Perkebunan Karet

Saat ini terjadi fenomena La-Nina yang menyebabkan meningkatnya curah sebesar 20-40%. Fenomena ini diperkirakan terjadi pada 27,5 % wilayah di Indonesia termasuk Lampung, Sumsel, Sumbar, sebagian Bengkulu, Riau, Sumut, dan Aceh. Fenomena La-Nina berpotensi menyebabkan penurunan produksi karet. Penurunan produksi ini dapat terjadi karena peluang hujan pada pagi hari yang lebih tinggi pada saat terjadinya fenomena La-Nina mengganggu kegiatan penyadapan tanaman karet. 

Pengaruh hujan terhadap produksi karet di Pusat Penelitian Karet Sembawa disajikan pada Tabel 1. La Nina berakibat pada turunnya jumlah hari sadap selama satu tahun. Pada tahun 2009 (tahun normal), jumlah hari sadap di Pusat Penelitian Karet Sembawa yang hilang karena hujan hanya 7 hari sadap, sedangkan pada tahun 2010 (La Nina) meningkat hingga mencapai 16 hari sadap. Peningkatan hari sadap yang hilang karena hujan yang tinggi pada Januari-Maret serta periode September-Desember 2010. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2010 curah hujan telah mengurangi hari sadap di KP Balit Sembawa sebanyak 9 hari. 

Tabel 1. Pengaruh curah hujan terhadap hari sadap

Bulan

TAHUN 2009 (Normal)

Tahun 2010 (La Nina)

Produk-

tivitas (Kg/Ha)

Jumlah Hari Tidak Disadap

Jumlah Hari Sadap

Produk-

tivitas 

(Kg/Ha)

Jumlah Hari Tidak Disadap

Jumlah Hari Sadap

Karena Hujan

Karena Libur

Karena 

Hujan

Karena Libur

Jan

157

1

2

28

252

3

2

26

Feb

197

 

1

27

189

4

1

23

Mar

188

1

1

29

257

3

1

27

Apr

226

 

2

28

304

 

1

29

May

204

1

2

28

282

 

1

30

Jun

160

 

1

29

254

 

1

29

Jul

135

 

2

29

265

 

2

29

Aug

87

1

3

27

170

 

2

29

Sep

74

 

6

24

110

1

6

23

Oct

100

 

1

30

148

1

1

29

Nov

124

2

2

26

159

1

2

27

Des

192

1

1

29

196

3

1

27

 

               

Total

1,844

7

24

334

2,586

16

21

328

Untuk mengantisipasi fenomena La-Nina pada perkebunan karet, dapat diaplikasikan teknologi rainguard. Hilangnya hari sadap dan keterlambatan waktu penyadapan karena hujan dapat diatasi dengan teknologi rainguard. Di India pada tahun normal, 25 hingga 40 hari sadap dapat diselamatkan dengan penggunaan rainguard.

Rainguard tersebut berfungsi untuk membelokkan  aliran air hujan yang mengalir melalui batang, sehingga tidak masuk ke mangkuk sadap dan menjaga bidang sadap tetap dalam keadaan kering. Dengan alat tersebut, air hujan yang jatuh ke dalam mangkok sadap jauh berkurang. Pengukuran volume air yang masuk pada mangkok sadap menunjukkan bahwa dengan aplikasi rainguard, air yang masuk ke dalam mangkok sadap hanya 20% saja sehingga tercucinya lateks oleh air hujan yang masuk ke mangkok sadap menjadi lebih kecil.

(Andi Nur Cahyo – Kelti Agronomi)

Penggunaan Rainguar
Penggunaan Rainguard

Pemupukan Tanaman Karet

Pemupukan pada tanamana karet merupakan salah satu masukan yang diperlukan dalam kultur teknis perkebunan karet untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi. Perkebunan karet pada saat ini banyak menggunakan klon-klon unggul yang berproduksi tinggi yang menguras hara tanaman, sehingga memerlukan menambahan hara melalui pemupukan. Respon pemupukan dari tanaman tergantung dari status hara tanaman. Pada kondisi kekurangan hara, tanaman sangat respon terhadap pemupukan dan mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi lebih baik lagi.

Tujuan dari pemupukan bertujuan antara lain : (1) mempertahankan kesuburan dan menjaga kelestarian tanah, (2) menjaga keseimbangan hara tanah dan tanaman, (3) mempercepat pertumbuhan tanaman untuk Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), (4) meningkatkan dan mempertahankan produksi untuk Tanaman Menghasilkan (TM), (5) meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit.

Keberhasilan pemupukan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : (1) tepat dosis pupuk, (2) tepat jenis pupuk, (3) tepat waktu dan frekuensi pemupukan, (4) tepat cara pemupukan, dan (5) adanya pengendalian gulma.  Dosis pupuk sesuai dengan rekomendasi umum pemupukan seperti pada Tabel 1 dan 2. Pupuk diberikan diberikan sesuai dengan umur tanaman yang memberikan manfaat hara sesuai yang dibutuhkan.

Tabel 1. Rekomendasi umum pemupukan pada tanaman belum menghasilkan

UMUR

TANAMAN

(tahun)

JENIS PUPUK

Urea

(g/p/th)

TSP

(g/p/th)

KCl

(g/p/th)

Kieserit

(g/p/th)

Frekuensi

pemupukan

Pupuk dasar

100

1

250

120

100

50

6 kali/th

2

250

200

200

75

6 kali/th

3

250

200

200

100

6 kali/th

4

300

200

250

100

6 kali/th

5

300

200

250

100

6 kali/th

 Tabel 2. Rekomendasi umum pemupukan pada tanaman menghasilkan

UMUR

 (tahun)

JENIS PUPUK

Urea

(g/p/th)

TSP

(g/p/th)

KCl

(g/p/th)

Kieserit

(g/p/th)

Frekuensi

pemupukan

6 – 15

350

200

300

75

2 kali/th

16 – 25

350

150

250

75

2 kali/th

> 25 sampai 2 tahun sebelum peremajaan

200

150

2 kali/th

Jenis pupuk yang diberikan terdiri 4 jenis yaitu : (1) Urea, (2) TSP, (3) KCl, dan (4) Kieserit (Gambar 1). Selain pupuk tunggal untuk pemupukan tanaaman karet, dapat juga alternatif pemupukan dengan menggunakan pupuk majemuk.

Gambar 1. Jenis pupuk untuk pemupukan tanaman karet

Waktu dan frekuensi pemupukan harus tepat agar pupuk dapat terserap tanaman. Pemupukan dilakukan saat kondisi kelembaban tanah cukup baik pada saat sudah ada hujan. Frekuensi pemupukan di sesuaikan dengan umur tanaman, pada TBM menggunakan frekuensi 6x/tahun (Tabel 1), sedangkan pada TM menggunakan frekuensi 2x/tahun (Tabel 2).

Cara pemupukan juga harus tepat sehingga tanaman dapat memanfaatkan hara secara optimum sesuai stadia pertumbuhannya. Aplikasi pemupukan dapat dilakukan dengan cara tabur dan di benam tergantung dengan kondisi lokasi kebun, jenis pupuk yang digunakan, dan ketersediaan tenaga kerja yang ada.

Pengendalian gulma dilakukan paling tidak satu minggu sebelum pemupukan untuk mengurangi kompetisi pemanfaatan pupuk. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan cara manual maupun kimiawi.

Pada saat ini harga karet yang masih rendah dan biaya pemupukan yang tinggi, memerlukan pertimbangan bijak untuk pelaksanaan pemupukan. Pemupukan selektif dapat dijadikan alternatif untuk areal yang defisiensi berat baik karena serangan penyakit maupun efek dari produksi yang berlebih, sehingga memerlukan penambahan hara segera untuk pemulihan kesehatan tanaman. Bijak dalam pemupukan untuk menjaga pertumbuhan dan produksi tanaman karet.